Senin, 26 Mei 2014

Diari Parlemen Remaja 2014 part 1

Assalamualaikum, halo readers. Kesempatan kali ini aku mau ceritain kegiatanku selama mengikuti acara Parlemen Remaja. Eh,belum tau ya apa itu Parlemen Remaja?

Jadi Parlemen Remaja adalah suatu event yang diadakan DPR RI yang pesertanya adalah perwakilan dari setiap provinsi di Indonesia (4 orang dari setiap provinsi) kelas X dan XI. Tujuan acara ini adalah memperkenal remaja-remaja lebih dekat sebenarnya bagaimana DPR itu, dan peserta juga dilatih untuk menjadi 'DPR cilik'.

                                                   
                                                            nih poster parja '14 ;)

jadi awalnya kami disuruh bikin essay, wah sedangkan aku gak punya bakat menulis sama sekali, dan essay harus kritis. Sedangkan ngomong politik aja gak ngerti, bahkan saya aja gak suka pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Awalnya saya tau acara ini di mading sekolah, waktu itu masih parja '13. Tapi krn sya gak suka hal2 kritis,jadi aku ga tertarik. Tapi karena mendengar seorang teman dekat saya lolos ke Jakarta dan dapat 5 besar peserta terbaik, saya jadi tertarik. Jadilah saya mencoba membuat essay nya. Nih, maaf kalo jelek,soalnya ini pertama kali bikin kaya ginian :D

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Peran Budaya Politik bagi Pengembangan Demokrasi
Oleh Meuthia Nabila P
          SMA Negeri 1 Batam
Negara Indonesia memiliki berbagai suku, budaya, dan bahasa yang menjadi tolak ukur  dalam sistem pemerintahan kita, yaitu demokrasi. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, budaya asing mulai ‘merasuki’ Indonesia. Masyarakat akhirnya menyerap berbagai budaya asing tersebut tanpa memilah apakah sudah sesuai dengan kepribadian bangsa atau belum.
Akibatnya, masyarakat akan mulai mengabaikan budaya aslinya sendiri, dan budaya asli Indonesia pun mulai luntur, bahkan sebagian mulai hilang, misalnya Reog Ponorogo yang mulai hilang di tengah zaman. Hal ini akan berdampak sangat besar kepada generasi penerus bangsa. Mereka akan merasa asing terhadap budayanya sendiri dan merasa lebih cocok dengan budaya luar yang bahkan belum tentu lebih baik. Dengan begitu, moral generasi bangsa akan rusak, kepribadian bangsa akan memudar, rasa nasionalisme akan berkurang.
Kalau budaya sendiri saja dilupakan, apalagi rasa nasionalisme? Dan kalau rasa nasionalisme saja sudah pudar, bagaimana akan berdemokrasi dengan baik untuk kebaikan dan kepentingan bersama?
Di samping itu, kita lihat sekarang, budaya demokrasi yang menyuarakan suara hati rakyat, justru menjadi daging empuk bagi para politisi yang mengejar kedudukan. Masyarakat miskin dan yang belum memiliki pendidikan politik dengan baik diiming-imingi kesejahteraan dengan dengan memilih politisi tersebut. Sedangkan setelah mereka menjabat mereka seperti kacang lupa kulit!
Mereka lupa dengan janji-janji mereka. Mereka sibuk memperkaya diri dari uang rakyat! Seperti tikus-tikus pemakan sampah di got, tanpa berfikir bagaimana nasib mereka yang hartanya dizhalimi. Mereka lupa akan janji dan harapan rakyat jelata dan para pencari keadilan. Dimana otak ketika hawa nafsu sudah dikedepankan?
Demokrasi sendiri juga menjadi ajang saling unjuk gigi dengan saling menjatuhkan para sesama ‘pemburu kekuasaan’ dan untuk saling menjelekkan antara politisi dan simpatisan. Ini hal yang sangat memprihatinkan dalam setiap pesta demokrasi (pemilu). Padahal, sebenarnya toleransi yang tinggi dan sikap saling menghargai adalah bagian penting dalam budaya demokrasi.
Undang-Undang Dasar dan undang-undang telah memberi acuan tentang bagaimana harusnya demokrasi itu sendiri berjalan. Demokrasi di Indonesia juga memang telah mengalami berbagai perubahan sistem, tetapi budaya politiknya tetap sama!
Demokrasi di Indonesia saat ini seolah hanya berorientasi kepada kekuasaan. Berbagai budaya politik yang sangat melekat di Indonesia misalnya “asal bapak senang”. Seperti apa yang pemerintah mau tetapkan, kita harus turut, tidak peduli seberapa dampaknya terhadap masyarakat.
Budaya demokrasi juga harusnya menjunjung tinggi sikap kejujuran dan kesamaan hukum. Bukan ‘tumpul ke atas runcing ke bawah’. Dahulu ketika masih kecil, saya sering bertanya, mengapa ketika ada berita di televisi, bahwa ada seorang tua miskin, yang keriput, sudah pikun, dalam keadaan terpaksa mencuri pisang tetangga, diadili penjara beberapa bulan, sedangkan di televise, banyak sekali berita tentang petinggi-petinggi berdasi dan berjas korupsi, bisa mendapat fasilitas di masa hukumannya. Bahkan bisa berkeliaran tanpa was was.
Saya berpikir bahwa demokrasi sejatinya adalah surga bagi para pencari keadilan, yang dengan bebas dapat beraspirasi dan menyalurkan pendapat. Kurang indah apalagi? Bahkan pemerintah lah yang memegang peranan kesejahteraan. Pemerintah bahkan juga memberi kebebasan bagi masyarakat untuk ikut andil. Sistem pemerintahan nan indah, bukan?
Berbagai penyimpangan demokrasi ini adalah bukti kuat akibat dari pudarnya nasionalisme, yang mana diawali dari pengabaian terhadap budayanya sendiri.
Semoga tulisan saya tersebut bisa kembali menyadarkan kita untuk lebih mengenal, mengembangkan dan mencintai budaya kita, karena mencintai budaya kita adalah langkah awal untuk menumbuhkan sikap nasionalisme. Dengan nasionalisme lah kita bisa mulai berdemorasi dengan baik, untuk kebaikan dan kepentingan bersama. Mulailah dari diri sendiri, Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membela Negara Indonesia?


Refrensi : kompasiana
                 https://id.answers.yahoo.com/question
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kebetulan aku bukan anak yg aktif, baru di SMA ini tertarik ikut lomba, seminar, dan acara-acara lain, karena itulah essay saya jelek,lempeng banget. Tapi alhamdulillah, 'kebetulan' aku lolos ke Jakarta.
                       
                                     

Kebetulan juga, pengumuman seleksi itu tanggal 6 Mei, sedangkan tanggal lahirku 7 mei, waaah itu serasa dapet hadiah langsung dari DPR dan UI >_<

Oh ya kumpulan essay kami di bukukan lho,



Tapi sempet dilema, aku belum punya pengalaman apa-apa. Apa iya aku bisa bawa nama Kepulauan Riau, sedangkan aku bukan siapa-siapa? *wesss dari hati terdalam loh*.
Pas tau aku lolos,wah senyum2 terus, jadi males belajar hehe. Oh ya, delegasi  kepulauan Riau ada 4 orang, saya dan Rhyval Radoth dari SMAN 1 Batam, lalu Kevin Situmorang dari SMAN 1 Tanjung Pinang dan Vadhillah Safitri dari SMAN 4 Batam. Dan kami satupun gaada yang asli melayu hahaha. Ini baju adat melayu yg aku dan vadhillah sewa, budgetnya Rp 100ribu di salon Griya Arinda, Baloi Persero, Batam.

Waktu Parade Budaya

Kalau Kevin sih cuma pake baju melayu sekolah, cuma ditambah songket2 gitu. Yang agak memalukan itu sih Rhyval, aduh kami sudah pakai baju cantik2 dia malah polos gitu aja, malu gak sih -_-. Tapi karena gak mau ribet pake kain buat lapisin kerudung dasar kita, lalu mahkotanya itu ribet banget, jadinya aku dan vadhillah sepakat gak bawa aksesoris kepala, karena emang takut patah juga sih kan kehimpit baju2 lain di koper...

                                                                     ini nih aslinya

Kami sepakat untuk membeli tiket pulang pergi dengan penerbangan Lion Air, hari sabtu jam 10 pagi. Oh yaaa ngomong2, tiket pulang pergi kami ditanggung loh, jadi nanti biaya tiketnya diganti sama pihak humas DPR ^_^. Kalau Kevin sih udah duluan, dia pergi sendiri dari bandara di Tanjung Pinang langsung ke Jakarta, jadi mereka yg dari pagi nungguin kami yg baru datang lewat jam 12.
Sesampai bandara Soekarno Hatta kurang lebih jam 12.30, dan mereka yang sudah duluan dari 12 ternyata udah nungguin kami, saya pun langsung kenalan sama teman2 dari provinsi DIY, Sulawesi mana yah, terus Sumbar dan NTB. Kami langsung masuk ke bis, kukira langsung berangkat ke penginapan kami di Wisma DPR RI Griya Kopo di Bogor, eh kami mesti nungguin teman2 kami dari Papua Barat sampai kurang lebih jam 15.30. Ternyata teman2 dari NTB dan Papua mereka harus transit ke Denpasar dulu, baru ke jakarta. Wah, perjalanan sangat panjang..
Setelah teman2 dr Papua Barat datang kamipun langsung ke Bogor, dan itu baru sampai jam 19.30, bayangin deh gimana garingnya kami selama di bis O_o

                                                             Selamat dataaang hehehe


Kevin yang udah panik bakal nampil sendirian, ternyata udah nungguin kami yg dari Batam di depan Ruang Sidang II,hehe kasihan.



Teman2 dari provinsi lain sih nampilin nari, nyanyi, ada juga yang presentasiin tentang makanan khas daerahnya. Kalau kami sih paling lengkap hahah, aku bawain pantun, Vadhillah gurindam 12, Kevin deskripsiin baju adat melayu yang kami pakai, dan Rhyval deskripsiin tentang lagu Lancang Kuning dan mainan gasing.


Dari Bali dan Bengkulu

Acara malam ini siap jam satu malam, ya biasalah narsis2 dulu sampai setengah satu malam. Tidur jam 1 waah hehehe.


Ini sekitar jam 00.30 loh hahah


Capek banget, langsung tidur di wisma hmmmm


1 komentar: